LAPORAN
BUKU “METODE PENELITIAN PENDIDIKAN BAHASA” KARYA Prof.Dr. SYAMSUDDIN AR, M.S.
dan Dr. VISMANIA S. DAMAIANTI, M.Pd.
PENELITIAN
PENGAJARAN BAHASA INDONESIA
Dosen
Pengampu : Titik Dwi Ramthi Hakim, M.Pd.
Disusun oleh :
SITI SUSANA
NIM120388201116
Kelas E4
JURUSAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MARITIM RAJA ALI HAJI
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penulis ucapkan kehadirat Allah Swt.
yang telah memberikan rahmat serta hidayahNya kepada kita semua, sehingga
berkat karuniaNya penulis masih berkesempatan untuk menyelesaikan laporan buku
yang berjudul “Metode Penelitian Pendidikan Bahasa” karya Prof.Dr.
Syamsuddin AR, M.S. dan Dr.Vismaia S. Yang dibandingkan dengan buku yang
berjudul “Metode Penelitian Bahasa : Tahapan, Strategi, Metode, dan Tekniknya”
karya Dr. Mahsun, M.S Damaianti,M.Pd untuk memenuhi tugas mata kuliah
Penelitian Pengajaran Bahasa Indonesia.
Dalam
penyusunan laporan buku ini, penulis ucapan banyak terima kasih kepada dosen
pengampu mata kuliah ini Titik Dwi Ramthi
Hakim, M.Pd. dan semua pihak yang telah membantu memberi masukan dan terlibat
dalam menyelesaikan tugas ini.
Semoga laporan buku ini dapat memberi manfaat bukan saja kepada penulis, tetapi
juga bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya.
Tanjungpinang,
April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata
Pengantar .................... i
Daftar Isi .................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Identitas
Buku .................... 1
1.1. Identitas
Buku Utama .................... 1
1.2.Identitas
Buku Pembanding .................... 1
BAB II PEMBAHASAN
1. Laporan
Bagian Buku .................... 2
1.1.Bab
I Pemahaman Konsep Dasar
Penelitian Pendidikan
Bahasa
dan Sifat Metodelogi
Penelitian
Pendidikan Bahasa .................... 2
1.2.Bab
II Masalah Dalam Penelitian
Pendidikan
Bahasa .................... 6
1.3.Bab
III Penelitian Kualitataif dan
Kuantitatif
dalam Pendidikan Bahasa .................... 8
1.4. Bab IV Konsep Ekperimen .................... 12
1.5.Bab
V Studi Kasus Dalam Penelitian
Pendidikan
Bahasa .................... 13
1.6.Bab
VI Penelitian Tindakan
1.7.(Action
Research) .................... 15
1.8.Bab VII Penelitian Tindakan Kelas .................... 18
2.
Komentar .................... 21
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan .................... 24
DAFTAR
PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.
Identitas Buku
1.1
. Identitas Buku Utama
Judul Buku :
Metode Penelitian Pendidikan Bahasa
Pengarang :
Prof.Dr. Syamsuddin AR, M.S. dan Dr.Vismaia S.
Damaianti,M.Pd.
Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya
Tahun
Cetakan : 2006
Garis
Besar Buku : 16 x 24 cm
Jumlah
Halaman : 272 halaman
ISBN : 979-514-633-4
Disainer
Sampul : Imam Taufik
1.2. Buku Pembanding
Judul Buku : Metode Penelitian Bahasa : Tahapan, Strategi,
Metode, dan Tekniknya
Pengarang : Dr. Mahsun, M.S.
Penerbit :
PT. Raja Grapindo Persada
Tahun Cetakan : 2005
Jumlah Halaman : 375 halaman
ISBN :
979-3564-570
BAB II
PEMBAHASAN
1. Laporan
Bagian Buku
1.1.
Bab I Pemahaman Konsep Dasar Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sifat Metodelogi
Penelitian Pendidikan Bahasa
Pada bab ini penulis menyampaikan tantang Pemahaman Konsep Dasar Penelitian Pendidikan
Bahasa dan Sifat Metodelogi Penelitian Pendidikan Bahasa. Terdapat sepuluh
sub bab pada bab ini. Sub bab pertama yaitu tentang Kegiatan Penelitian sebagai
Syarat. Penulis menyampaikan penelitian bagi mahasiswa pascasarjana merupakan
salah satu keterampilan yang dimiliki sebagai salah satu syarat bagi
peningkatan kualitas pendidikan (Syamsuddin Ar,2001). Selama mengikuti kegiatan
pendidikan, mahasiswa dituntut trampil menghasilkan karya tulis berupa makalah,
laporan buku, tesis atau disertasi.
Adapun pengertian karya ilmiah menurut Syamsuddin Ar
(2001) adalah suatu laporang tertulis dari suatu hasil penelitian yang cermat
terhadap suatu masalah. Karangan ini dikelompokan menjadi dua yaitu pertama,
disusun bukan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar akademik saja. Kedua,
tulisan yang dimaksud untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
akademik atau penyelesaian tugas dikalangan perguruan tinggi. Tesis adalah
karya ilmiah sebagai syarat untuk memenuhi ujian sarjana untuk memenuhi tujuan
konvensional. Sifat penyusunanya harus dinyatakan penulis dalam hipotetesi dan
penelitianya tidak hanya semata-mata deskripsi lagi. Tesis merupakan salah satu
sarat untuk menempuh ujian Magistra
(S2).
Sedangakan disetasi adalah karya ilmiah yang disusun
bertujuan untuk memperoleh gelar Doktor (S3).
Menulis juga menegaskan bahwa suatu karya ilmiah itu
harus berkualitas, dan mengharuskan peneliti lebih cepat dalam mengejar ketertinggalanya,
melalui metodelogi penelitian, mahasisiwa akan terampil dalam membuat karya
ilmiah. Adapun penelitian merupakan Art and Science guna mencari jawaban
terhadap suatu permasalahan (Yoseph dan Yoseph, 1979).
Sub bab bab kedua penulis membahas tentang Tujuan
Penelitian Bahasa. Mrngutip dari (Kamil, 1995) secara umum tujauan penelitian
dalah menjelaskan dunia sekitar kita melalui upaya yang sistematis yang
menjelaskan, memehami, memecahkan dan mengatisipasi masalah-masalah pendidikan.
Adapun tujuan penelitian bahasa secara umum yang disampaikan penulis adalah :
a. Menemukan
dan mengembangakan teori, model, atau strategi baru dalam pendidikan bahasa.
b. Menerapkan,
menguju dan mengevaluasi kemampuan teori, model, atau strategi baru dalam
pendidikan bahasa.
c. Mendeskripsikan,
menjelakan keadaan dalam pemikiran terkait isu permasalahan dengan pikiran.
d. Memecahkan
masalah pendidikan bahasa.
e. Menemukan
faktor-faktor yang emperngaruhi masalah ppendidikan bahasa
f. Membuat
keoutusan atau kebijakan
Pada
sub bab ini ada dua tujuan yang dibahas oleh penulis yaitu tujuan pendidikan
bahasa dan menulis yang bertujuan untuk meningkatkan praktik-praktik pendidikan
membaca dan menulis, tujuan keduanya adalah, tujuan mewicara dan mendengarkan yaitu
bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah peningkatan kempauan mewicara dan
mendegarkan
Pada sub bab ketiga penulis membahas
tentang Pentingnya Penelitian Pendidikan Bahasa. Dalam hall ini peneliti
menjelaskan bahwa pentingnya penelitian bagi peneliti untuk suatu pembuktian
dan mengurangi ketidakpastian terhadap sesuatu yang diteteapkan. Berberpa
faktor yang menjadi alasan sesorang untuk meneliti yaitu, masyarakat,
masyarakat umum dan penetu kebijakan.
Sub bab keempat penullis membahas
tentang Sifat Penelitian Pendidikan Bahasa. Penelitian bahasa mempunyai sifat
yaitu bertujuan, sistematis, objektif, logis, empiris, bertujuan, reflicable dan transmiable, penjelasan
singkat dan simpulan bermasyarakat.
Sifat bertujuan dimaksud bahwa
terget yang hendak dicapai seorang peneliti dan dipakai sebagai tolak ukur
dalam penelitianya. Sifat sistematis artinya penelitian memelukan
langkah-langkah yang teratur atau terssusun yang tepat untuk melaksanakan suatu
proses penelitian. Sifat objektif, objektivitas yang mengacu pada data yang
dihasilkan dalam penelitian. Sifat logis, yaitu penelitian yang dilakukan
dengan sistematis harus sesuai dengan pemikiran yang logis. Sifat empiris dalam
penelitian yaitu penelitian mengenai dunia nyata yang dapat diindrakan oleh pancaindra
manusia yang bersifat objektif. Penelitian bersifat Rediktif dimaksud adalah
proses menerjemahkan realitas menjadi kenyataan yang bersifat konseptual. Sifat
selanjutnya adalah reflicable dan transmitable
yaitu penelitian pendidikan berifat transmitable
penelitian yang harus mampu memecahkan masalah dan dapat digunakan dalam
penelitian. Penjelasan singkat, sifat penelitian ini lebih menekankan hubungan
terhadap penomena yang komplek menjadi sederhana. Dan simpulan bersyarat hasil suatu penelitian tidak bersifat mutlak
tetapi merupakan simpulan bersyarat.
Sub bab selanjutnya membahas tentang
Sikap Ilmiah. Penulis menjelaskan bahwa sikap ilmiah daat diketahui melalui
tujuh macam sikap yang sebagai keseluruhan pengejewatahan jiwa ilmiah yaitu peneliti harus memeilki sikap ingin
tahu, sikap kritis, sikap terbuka, sikap objektif, sikap rela enghargai karya
orang lain, sikap berani mempertahankan kebenaran, dan sikap menjangkau kedepan.
Sub bab keenam, penulis membahas
tentang Hakikat Metodelogi Penelitian Bahasa. Metode penelitian merupakan cara
pemecahan masalah yang dilakukan secara terencana dan cermat demi mendapatkan
suatu fakta dan simpulan agar memahami suatu keadaan.
Sub bab ketujuh penulis
menjelaskan Tentang Mengapa Peneliti
Harus Mengikuti Metodelogi. Mengutip dari L.S. shulman (1981) mencatat alasan menagapa para peneliti pendidikan harus
memahami metodelogi yang tepat. Pertama, peneliti membutuhkan suatu observasi
tentang fakta-fakta dalam masalah pendidikan. Kedua, dalam pendidikan penomena,
peristiwa, pelaku, dan proses yang harus diamati. Ketiga, penelitian
pendidikantidak hanya diharuskan sistematis, tetapi juga harus mampu
menyelidiki permaslahan yang khusus.
Sub Bab kedelapan penulis menjelakan
tentang Tujaun Mempelajari Metodelogi Penelitian. Tujauanya adalah untuk
meningkatkan keteampilan, kemampuan, dan meningkatkan pengetahuan tentang
mekanisme dalam penelitian.
Sub bab selanjutnya penulis membahas
tentang Proses Penelitian. Proses penelitian dalam penelitian kuantatif berbeda
dengan penellitian kuantitatif. Kuantitatif, berdasarkan pada pradigma logico-Hypothetiko-verivikatif dangan
berlandasan pada asumsi mengenai objek yang emiris (Suriasumantri,1978).
Sedangakn penelitian kualitatif bersifat siklus, buakn liner dan penelitian
dilakukan secara berulang sesuai kehendak peneliti.
Sub bab kesepuluh penulis membahas
tentang Tipologi Penelitian pendidikan bahasa. Jenis penelitian didasarkan pada
tujuan, jenis data dan metoode. Berdasarkan tujuan penelitian dapat dikelompokan
menjadi penelitian daasar dan penelitian terapan. Jenis penelitian berdasarkan
jenis data yaitu penelitian kualitatif dan kuantitatif dan berdasarkan metode
penelitian terdiri atas penelitia
eksperimen yang berarti penelitian yang yang dilakukan secara mengontrol
kegiatan, memanipulasi dan oksevasi. Penelitian eksperimen kuasi, penelitian
subjek tunggal, penelitian, deskriptif, komperatif,korelasional, penelitian
survei, penelitian ex post fakto yang
digunakan dalam penelitian yang menghubungkan sebab akibat antar variabel yang
diteliti, penelitian etnografik penelitian yang menjelaskan budaya atau kelopok
sosial. Selanjutnya penelitian fenomenolofi
mengenai filsafat ilmu dan metode penelitian. Studi kasus yang difokuskan
pada pengembangan objek yang hendak ditetliti, Groudled Theory menggambarkan
orang-orang yang diteliti dan dalam bidak yang nyata. Studi kritis, dan
penelitian nomiteratif yaitu penelitian analitis melalui dokumen.
1.2.
Bab II Masalah Dalam Penelitian Pendidikan Bahasa
Pada
bab II ini penulis memaparkan sepuluh sub bab. Sub bab yang pertama yaitu Penetuan
Masalah, sub bab kedua yang dibahas yaitu kriteria dalam menetapkan masalah,
sub bab ketiga dibahas tentang Sumber Masalah Penelitian, sub bab keempat yang
dibahas tentang Merumuskan Masalah Penelitian, sub bab kelima Contoh Perumusan
Masalah Penelitian, sub bab keenam Tujuan Penelitian Pendidikan Bahasa, sub bab
Ketujuh Manfaat Penelitian, sub bab kedelapan Sumber Bacaan, sub bab Kesembilan
Membahas Tentang Merumuskan Hipotesis dan sub bab yang terakhir yaitu Penetralisasi
Asumsi-Asumsi.
Sub bab pertama mengenai Penetuan Masalah. Untuk menemukan suatu
masalah diperlukan kecapan terhadap
suatu penomena yangterjadi dilapangan, pengertian terhadap fakta serta
pemahaman terhadap buah pikiran para ahli agar mempermudah untuk melihat
permasalahan untuk suatu penelitian.
Sub bab kedua penulis menjelaskan tentang Kriteria Dalam
Menetapkan Masalah. Kriteria dalam menetapkan masalah yaitu : (1) apakah
masalah itu berguna untuk dipecahkan? (2) apakah masalah dapat diteliti? Dapat
diungkapkan kejelasanya. (3) apakah mampu peneliti meneliti masalah tersebut?
(4) apakah masalah itu menarik? (5) apakah masalh itu memberikan sesutu yang
baru (6) apakah masalah itu terbatas jelas dan spesifik?
Sub
bab selanjutnya penulis menjelaskan Sumber-Sumber Yang Menjadi Masalah
Penelitian. Sumber masalah penelitian dapat peneliti temukan melalui bacaan,
pertemuan ilmiah, laporan hasil penelitian, peryataan pemegang kekuassaan,
pengamatan dan pengalaman peneliti.
Sub
bab keempat penulis mejelaskan tentang Merumuskan Masalah Penelitian. Jack R.Fraenkel
dan Noerman E Wallen mengatakan bahwa syarat perumusan suatu maslah yaitu,
harus fasible yaitu memungkin untuk
diteliti, clear rumusan masalh
ditulis dengan kalimat yang jelas, Signifikan
suatu masalah harus memberikan sumbangan yang berarti bagi pengetahuan, dan
ethic yaitu permasalahan harus
dielesaikan tanpa membahayakan manusia, baik secara fisik maupun psikis.
Sub
bab kelima penulis menjelaskan tentang Perumusan Masalah Penelitian. Dalam sub
bab ini penulis merumuskan beberapa contoh yang bisa dirumuskan dalam bebrapa
masalah penelitian. Contoh perumusan masalah dalam penelitian eksperimental
yaitu, (1) apakah teknik membaca herrigbone efektif dalam meningkatkan
kemampuan memahami wacana? (2) adakah perbedaan kemampuan menulis sebelum dan sesudah
siswa diberi pembelajaran dengan strategi komperatif? dan lain-lain.
Sub
bab keenam penulis mengupas mengenai Tujuan penelitian Pendidikan Bahasa.
Tujaun penelitian bahasa adalah kunci keberhasilan usaha secara keseluruhan.
Tujuan yang jelas memberikan landasan untuk perancangan dalam penelitian, untuk
memeilih metode yang tepat. Hal yang harus
dicari adalah unsur pokok yang melandasi suatu penelitian. Beberapa
pertanyaan yang menjelaskan hal tersebut yaitu (1) Apakah yang ingin dicapani
penelitian? (2) Masalah apa sajakah yang penting? (3) Siapa yang akan
dipengaruhi penelitian? (4) Siapakah yang akan mendapatkan manfaat? (5) Hal apa
sajakah yang dapat berubah? (6) Mengapa penelitian itu dibuat? (7) jenis
penelitian apa sajakah yang diperlukan? (8) Apakah penelitian mencoba mencapai
terlalu banyak? (9) Apakah penelitian terlalu rumit? (10) apakah orang yang terlibat tahu apa yag
mereka lakukan?.
Sub
bab ketujuh penulis menjelaskan tentang Manfaat Penelitian. Dalam penelitian
bahasa ada dua manfaat yaitu manfaat teoritis dan praktis. Dalam sebuah
penelitian harus dapat memberikan manfaat yang nyata dan benar-benar
dibutuhkan.
Sub
bab kedelapan penulis menerangkan tentang
Sumber Bacaan. Sumber bacaan dalam penelitian kuantitatif. Inti dari
tinjauan bacaan adalah sebuah kepuasan dalam bacaan. Peneliti hharus mengatur
tinjauan bacaan secar logis. Sistematika penguraian tinjauan bacaan berdasarkan
bebrapa cara yaitu (1) secara historis yaitu berdasarkan tanggal penerbitan (2)
berdasarkan variabel dan metode enelitian (3) Berdasarkan desain metode
penelitian (4) berdasarkan urutan umum ke khusus (5) kombinasi semua cara.
Sub
bab kesembilan penulis menjelaskan tentang Merumuskan Hipotesis. Merumuskan
hipotesis kerja adalah suatu jawaban sementara terhadap masalah yang
ditentukan. Dalam hipotesisi untuk menguji kepalsuan dan kebenaranya serta
meremahkan bukti negatif. Peneliti harus objektif utuk ittu dia menyangkal
hipotesisinya dan berusaha untuk membuktikanya.
Sub
bab ke sepuluh penulis membahas tentang Penetrasi Asumsi-Asumsi. Karena dalam
penelitian kualitatif tidak ada pengujian hipotesisi dan alat-alat pengumpul
datanya harus dapat dipercaya (reliabel) dan dapat digunakan dengan tepat maka
sebagai gantinya digunakan prosedur tranferabilitas (keteralihan) defendabilitas
(keterandalan), dan konfirmabilitas (derajat penegasan), dan kredibilitas
(derajat kepercayaan).
1.3.Bab
III Penelitian Kualitataif dan Kuantitatif dalam Pendidikan Bahasa
Pada
bab ini penulis menyampaikan materi dengan tiga belas sub bab yaitu, Hakikat
Penelitian Kuantitatif, Manfaat Penerapan Penelitian Kualitatif, Perihal
Keterampilan yang Dibutuhkan, Pendekatan Kualitatif untuk Meperbaiki Kinerja
Guru Bahasa, Penelitian Kualitatif dan Pendidkan Guru, Konsep Rancangan
Penelitian Penelitian Kualitatif, Rancangan Penelitian Penelitian Kualitatif,
Forum Komunitas dan “Key-Imformant” sebagai Metode Pengumpulan Data,
Teknik-teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif, Teknik-teknik
Penulisan Laporan Kualitatif, Metode Kualitatif di dalam Kurikulum Sekolah, Perbandingan
Pendekatan Kuantitaf Dan Pendekatan Kualitatif, Memadukan Penelitian Kualitatif
Dankuantitaif Mungkinkah?.
Sub
bab pertama Hakikat Penelitian Kuantitatif. Penelitian ini disebut dengan
penelitian investigasi karan peneliti biasanya melakukan pengumpulan data
dengan cara berinteraksi langsung dengna orang-orang ditempat penlitian. Di
lapangan peneliti berupaya untuk menginterpretasikan fakta yang relavan yang
secara menyeluruh.
Sub
bab ke dua penulis membahas tentang
Manfaat Penerapan Penelitian Kualitatif. Bebrapa manfaat dalam
penelitian kualitatif yaitu : memperbaikai atau mengembangkan pola hubungan
praktisi pendidikan dan menjadi bagian
dari upaya pendidikan dan peningkatan kualitas guru atau calon guru,
memperlancar seorang peneliti menjadi pengamat lebih tanjam tehadap keseluruhan
lingkungan sekolah, membantu mengembangkan proses belajar mengajar sehingga
guru dapat melakukan upaya yang lebih besar, pendekatan penelitian kulaitatif
dapat masuk kelingkunagn sekolah.
Sub
bab yang selanjutnya penullis membahas tentang Perihal Keterampilan yang
dibutuhkan. Keterampilan untuk menerapkan penelitian kualitatif meliputi
kepekaan teoritis dan sosial; kemampuan menjaga jarak analisis sekaligus
memanfaatkan pengalaman teradahulu dan pengetahuan; kemapuan pengamatan yang
cermat dan kecakapan berinteraksi.
Sub
bab keempat penulis mebahas tentang Pendekatan Kualitatif untuk Meperbaiki
Kinerja Guru Bahasa. Langkah-langkah seorang guru yang melaksanakan penelitian
kualitatif (1) ambil suatu masalh fokus penelitian; (2) buat catatn rinci,
reakan hasil obsevasi dan wawancara; (3) periksa kembali data-data; (4) buat
pertanyaan tentang permasalahan; (5)pergunakan data untuk membuat putusan,
proses penilaian akan berdampak pada perbaikan keadaan.
Sub
bab kelima penulis membahas mengenai Penelitian Kualitatif dan Pendidkan Guru.
Dalam peelitian kualitatif guru dapat diminta untuk membuat catatan
kecil-kecilan di dalam kelas atau tempat mereka bekerja, dan memberikan
serangkaian pertanyaan yang bersifat umum. Contoh : Bagaimana guru
mengorganisasikan atau mengelola kelas ketika melaksanakan pembelaran bahasa?.
Penelitian ini dapat berguna bagi program pendidikan guru karena menawarkan
kesempatan bagi paara calon guru untuk mengekplorasikan lingkungan sekolah yang
kompleks.
Sub
bab keenam penulis membahas tentang Konsep Rancangan Penelitian Kualitattif.
Acuan rancangan penelitian kualitatif dlah satunya berupa asumsi-asumsi. Peneliti
harus sangat sensitif terhadap pentingnya konteks lingkungan yang diselidiki
dan harus yakin bahwa metodelogi atau asumsi pengetahuan yang dihasilkan tidak
berbeda dengan metodelogi atau asumsi pengetahuan yang diteliti.
Sub
bab selanjutnya penulis menguraikan tantang Rancangan Penelitian Kualitatif.
Rancangan penelitian kualitatif merupakan rencana dan struktur penyelidikan
yang disusun untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitianya. Rancangan
hendaknya dilakukan sebelum ke lapangan. Rancangan penelitian kualitatif atau
naturalistik pada awalnya belum bisa direncankan secara rinci, lengkap dan
pasti. Dengan demikian rancangan penelitian bersifat “emergent, evolving, developing.” Lincoln dan Guba
mengidentifikasikan unsur-usur desain penelitian kualitatif, yaitu penetuan
fokus penelitian, penyesuaian pradigma dengan fokus penelitian, penyesuaian
pradigma dengan teori subtantif yang dipilih, penetuan dimana dan dari siapa
data yang dikumpulkan, penetuan fase-fase ppenelitian secara berurutan, penentuan
instrumentasi, perncanaan pengumpulandata, perencanaan perosedur analisis,
perencanaan logistik, rencana untukpemeriksaan keabsahan data.
Sub
bab kedelapan penulis menguraikan tentang Forum Komunitas dan “Key-Imformant”
sebagai Metode Pengumpulan Data. Penggunaan forum komunitas dan “key-imformant”
sebagai metode pengumpulan data menuntut agar dibangun rasa saling percaya
antara mereaka yang dievaluasi dan evaluator (schwab, 1997).
Sub
bab selanjutnya penulis membahas tentang Teknik-teknik Pengumpulan Data dalam
Penelitian Kualitatif. Data yang telah dan sedang dikumpulakan melalui
teknik-teknik tertentu harus dilacak, dipilah, disentesis, dicari, polanya
diiterpretasi dan disajikan agar peneliti mendapat makna penomena serta dapat
mengkomunikasikan kepada orang lain. Teknik pengumpulan datanya dapat dilakukan
melalui wawancara, observasi,dokumentasi, serta teknik dan model analisis data.
Sub
bab kesepuluh penulis menjelaskan tentang Teknik-teknik Penulisan Laporan
Kualitatif. Laporan kualitataif ditulis seara narasi bersifat kreatif. Trdapat
tiga tipe fokus untuk menjadikan laporan itu baik yaitu tesis, tema dan
topik. Tahap-tahap yang harus dilalui
dalam penulisan laporan kualitatif yaitu: (1) pengorganisasian rakaman; (2)
pembuatan kerangka laporan sementara; (3) mengadakan rujuk silang; (4)
penulisan draf laporan berdasarkan kerangka; (5) menelaah dan revisi laporan.
Sub
bab kesebelas membahas tentang Metode Kualitatif di dalam Kurikulum Sekolah.
Banyak guru merasa bahwa betapapu tertarik mereka pada kegiatan-kegiatan
tersebut, mereka tidak memeiliki kebebasan kurikuler untuk percobaan
proyek-proyek semacam itu dalam ukuran besar. Pendekatan foxfire dapat
digunakan didalam kelas. Siswa dapat pergi keluar sendiri-sendiri atau
berkelompok yang terdiri atas beberapa orang untuk mewawancarai berbagai staf
sekolah.
Sub
bab selanjutnya penulis menguraikan tentang Perbandingan Pendekatan Kuantitaf
Dan Pendekatan Kualitatif. Dikutip dari Burges (1985) menyarankan tidak
mempertentangkan secara tajam pendekatan kuantitaf dan kualitaf, walaupun bayak
perbedaanya. Untuk mengetahui frekuensi distribusi atau korelasi yang relavan
dipilih pendekatan kuantitatif, sedangkan untuk aspek maslah sosial tertentu
sering digunakan metode kualitatif.
Sub bab terakhir
penulis membahas tentang Memadukan Penelitian Kualitatif Dankuantitaif
Mungkinkah?.data kualitatif dan kuantitatif tidak bersumber dari pegumpulan
data yang berbeda tetapi dari instrumen penelitian yang sama.
1.4.
Bab IV Konsep Ekperimen
Pada
bab IV ini penulis menyampaikan enam sub bab mengenai materi konsep penelitian.
Sub bab yang di bahas yaitu Konsep Dasar Penelitian Eksperimen, Rancangan
Penelitian Eksperimen, Rancangan Pra- Penelitian Eksperimental, Rancangan Eksperimen Murni, Rancangan Eksperimen Semua,
Rancangan Eks-Pos-Fakto.
Sub
bab pertama penulis membahas tentang Konsep Dasar Penelitian Eksperimen.
Penelitian eksperimental merupakan suatu metode yang sistematis dan logis untuk
melihat kondisi yang hendak diteliti.
Sub
bab selanjutnya peneliti membahas tentang
Rancangan Penelitian Eksperimen. Penelitian eksperimen menurut Ary
(1985) mempunyai tiga karakteristik yaitu (1) variabel bebas yang dimanipulasi;
(2) variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan; (4)
efek atau pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati
secara langsung oleh peneliti.
Sub
bab ketiga peneliti membahas tentang
Rancangan Pra- Penelitian Eksperimental. Rancangan sederhana ini berguna
untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga
hal yang lazin digunakan pada rancangan ini yaitu (1) Studi
kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
(2) tes awal- tes akhir kelompok tunggal (the
one group pretest posttest). (3) Perbadingan kelompok statis (the static group comparison design)
Sub
bab selanjutnya peneliti membahas tentang Rancangan Eksperimen Murni. Tiga
karaktiris yang terdapat dalam rancangan ini yaitu (1) Adanya kelompok kontrol;
(2) semua ditarik secara lambang dan ditandai untuk masing-masing kelompok; (3)
sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antarkelompok.
Sub
bab kelima penulis menjelaskan tentang Rancangan Eksperimen Semu. Rancangan
eksperimental semu atau kuasi (Quasi-Eksperimental
Design) memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap
asli manusia terhadap bahasa yang ingin diteliti. Bebrapa rancangan eksperimen
kuasi : (1) rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok
kontrol, (2) rancangan dengan subjek melalui tes awal tes akhir dan kelompok
kontrol, (3) rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan; (4) rancangan
rangkaian waktu; (5) rancangan faktorial.
Sub
bab terakhir penulisan membahas tentang
Eks Pos Fakto (Ex post Facto Design).Rancangan
ini adalah rancangan yang terdapat adanya berbagai hubungan antara skor dan
kelompok yang tidak dapat disatukan dari berbagai instruksional program yang
diberikan sebelum adanya tes.
1.5.
Bab V Studi Kasus Dalam Penelitian Pendidikan Bahasa
Pada
bab ini penulis menyampaikan materi dengan tujuh sub bab mengenai Studi Kasus
Dalam Penelitian Pendidikan Bahasa. Sub bab pertama membahas tentang Konsep
Dasar Studi Kasus, sub bab kedua Keuntungan dan Kelemahan Studi Kasus, sub bab
ketiga Jenis-jenis studi kasus, sub bab keempat Studi Multi-Situs, Bab kelima
Implementasi Penelitian Studi Kasus, Sub bab keenam Petunjuk Penggunaan Studi
Kasus, sub bab terakhir membahas Ciri-ciri Studi Kasus yang Baik.
Sub
bab pertama penulis membahas tentang Konsep Dasar Studi Kasus. Menurut Bogdan
dan Biklen (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu
latar (a detailed examination of one
setting) atau orang subjek (one
single subject) atau satu temppat penyimpanan dokumen (one single
depository of documents) atau satu peristiwa tertentu (one perticular event).
Sub
bab kedua penulis membahas tentang Keuntungan dan Kelemahan Studi Kasus. Adapun
keuntunganya adalah dengan adanya studi kasus, dimungkinkan peneliti untuk
membandingkan sejumlah pendekatan yang berbeda-beda terhadap suatu masalah
secara rinci untuk mengambil pelajaran yang diterapkan secara umum. Kelemahan
studi kasus karena memperjelas proses yang rumit, hasilnya, dan apa yang
terjadi sebelumnya. Cara ini dapat merupakan proses yang banyak menyita waktu.
Sub
bab selanjutnya penulis membahas mengenai jenis-jenis Studi Kasus. Menurut
Brogdan dan Biklen (1982) diklasifikasikan sebagai berikut (1) Studi kasus
kesejarahan mengenai organisasi; (2) studi kasus observasi; (3) studi kasus
sejarah hidup; (4) studi kasus kemasyarakatan; (5) studi kasus analisis situasi
(6) microthenografi.
Sub
bab keempat penulis mebahas tentang Studi Multi-Situs. Pada dasarnya studi ini
memiliki kesamaan prinsip dengan studi multi-khusus, perbedaanya hanya terletak
pada pendekatanya.
Sub
bab kelima penulis menguraikan tentang Implementasi Penelitian Studi Kasus. Bogdan
dan Biklen (1982) memberikan petunjuk desain yang dihasilkan dalam bentuk
cerobong (funnel). Cerebong ini
melukiskan proses penelitian yang berawal dari eksplorasi yang bersifat luas
dan mendalam.
Sub
bab keenam penulis membahas tentang Petunjuk Penggunaan Studi Kasus. Dalam hal
ini pertimbangan secukupnya hendaknya diberikan kepada tingkat kenetralan yang
harus diterima seorang peneliti.
Sub bab terakhir
peneliti membahas tantang Ciri-ciri
studi Kasus. Diberikan Yin (1987) bahwa studi kasusu yang baik adalah studi
yang patut dicontoh (examplary), dan hendaknya bersifat signifikan, lengkap,
menunjukan bukti-bukti yang memadai, mempertimbangkan perspektif alternatif dan
disusun dengan gaya yang menarik.
1.6.
Bab VI Penelitian Tindakan (Action Research)
Pada bab ini penulis menyampaikan materi dengan sepuluh sub bab mengenai penelitian tindakan. Sub bab
pertama membahas tentang Pengertian Penelitian Tindakan, sub bab kedua membahas
tentang Asas-Asas Penelitian Tindakan, sub bab ketiga membahas tentang
Karakteristik dan Fungsi penelitian tindakan, sub bab keempat membahas tentang
Langkah-Langkah Dan Jenis Penelitian Tindakan, sub bab kelima membahas tentang
Petunujk Penggunaan Penelitian Tindakan, sub bab keenam membahas tentang
Jenis-Jenis Penelitian Tindakan, sub bab ke tujuh membahas tentang Riset Untuk
Mengambil Penelitian Tindakan, sub bab kedelapan membahas tentang Apa Yang
Dapat Dilakukan Penelitian Tindakan, sub bab kesembilan membahas Tentang Ancangan
Riset Aksi Terhadap Data, sub bab kesepuluh membahas tentang Keuntungan Dan
Kelemahan Penelitian Tindakan.
Sub bab pertama penulis membahas tentang Pengertian Penelitian
Tindakan. Penelitian tindakan merupakan upaya mengujicobakan ide-ide kedalam prkatik
untuk memperbaiki atau mengubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari
situasi.
Sub bab kedua penulis membahas tentang Pengertian Penelitian
Tindakan ada enam yaitu asas kritik reflektif,diaklektis, asa sumber daya
kolaboratif, asa resiko, asa struktur majemuk, dan asa teori, praktik dan
transformasi.
sub bab ketiga penulis membahas tentang Karakteristik dan Fungsi
penelitian tindakan ada tujuh yaitu, bersifat situasional kontekstual, bersifat
partisipatori, bersifat self-evaluatif, bersifat on the sport. Pertemuanya diterapkan
segera dan perspektif jangka panjang, memiliki sifat keluwesan dan adaptif.
Sub bab keempat peneliti membahas tentang Fungsi Peneliti Tindakan
yaitu (1) sebagai alat untuk memecah masalah; (2) sebagai alat pelatihan dalam
jabatan (3) sebagai alat untuk mengenal pendekatan tambahan pada pengajaran;
(4)sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi dan memperbaiki kegagalan
penelitian tradisional, (5) sebagai alat untuk menyediakan alternatif yang
lebih baik untuk mengantisipasi pendekatan yang lebih subjektif.
Sub bab kelima penulis membahas langkah-langkah dan Jenis-jenis
Penelitian Tindakan. Secara umum prosedur penelitian tindakan meliputi 8 tahap
yaitu :
Tahap I : Identifikasi-evaluasi-formulasi
masalalah
Tahap II : diskusi pendahulian
dan perundingan
Tahap III : Kajian
pustaka
Tahap IV : Modivikasi
atau redefinisi
Tahap V : pemilihan
prosedur penelitia, penetapan sampel,
administrasi penelitian dan tidakanya.
Tahap VI : pemilihan prosedur evaluasinya dan
melaksanakan prinsip
kontinuitas dan menetapkan sasaran evaluasi.
Tahap VII : melaksanakan proyek penelitian tindakan
Tahap VIII : pemaknaan
data, penarikan inferensi dan penelitian
seluruh proyek penelitian
Sub bab
selanjutnya penulis membahas tentang Jenis-Jenis Penelitian Tindakan yang
terdiri dari empat jenis yaitu (1) Penelitian tindakan diagsonik yaitu peneliti
dengan cara masuk kedalam situasi yang sudah ada serta merta mendiakronis
situasinya. (2) Penelitian tindakan partisipan yaitu melibatkan orang yang akan
melakukan tindakan proses penelitian awal. (3) penelitian tindakan empiris
yaitu penelitian dengan melakukan sesuatu dengan membakukan apa yang dilakukan
dan apa yang terjadi. (4)pendidikan eksperimental yaitu penelitian yang
didalamnya banyak mengandung berbagai teknik tindakan terkontrol secara
efektif.
Sub bab ketujuh
penulis membahas tentang Riset untuk Mengambil Tindakan. Riset dilakukan
dengantujuan untuk mengubah perubahan mengenai beberapa isu khusus. Penulis
mengutip pendapat dari beberpa ahli mengenai hal ini, Riset aksi selalu dengan soal-soal yang
penting. Fokus nya pada anak-anak yang tidak bersekolah (Childrend’s Defense
Found, 1978), kondisi penjara-penjara di Amerika (Milford, 1974), hukum badan
di sekolah (Center for Law and education, 1978) atau pembuangan limbah beracun
(Levine, 1980b)
Sub bab
selanjutnya yaitu sub bab kedelapan penulis membahas tentang Apa yang Dapat
Dilakukan Penelitian Tindakan dengan bebapa cara yaitu (1) pengumpulan
informasi secara sistematis, (2) reiset aksi dapat memberikan kepada kita
informasi; (3) penelitian aksi berguna menggali bagian-bagian sistem yang dapat
menghadapi tantangan baik secara hukum maupun aksi masyarakat; (4) riset
tindakan memungkinkan orang memahami diri sendiri dengan baik, meningkatkan kesadaran
adanya masalah, dan meningkatkan rasa keterikatan diri, (5)riset aksi dapat
digunakan sebagai siasat mengorganisasi orang-orang untuk aktif dalam
melengkapi isu-isu khusus, (6) riset aksi membantu anda mengembangkan rasa
percaya, (7) penelitian aksi memperkuat komitmen sesorang.
Sub bab
selanjutnya penulis membahas tentang Rancangan Riset Aksi terhadap Data.
Penulis menjelaskan bagaimana melakukan riset tindakan, peneliti harus
memikirkanproses untuk penelitian dan menamakan bukti-bukti yang dikumpulkan,
data. Mencari bahan dokumenter yang diperlukan dalam riset aksi secara seksama.
Sub kesepuluh penulis membahas tentang Keuntungan
dan Kelemahan Penelitian Tindakan. Keuntungan utamanya ialah bahwa cara ini
nyata, konkret, dan setiap orang dapat melihat apa yang terjadi. Segi lainya
dari konkretan penelitian tindakan bahwa ada sesuatu yang pada akhirnya
didapatkan. Bagi pelaksana, penelitian tindakan membebankan disiplin pada kerja
yang berkaitan dengan pengembangan, yang dalam keadaan baiasa, sering
disiplinitu tidak ada. Kelemahan
penelitian tindakan adalahbila penelitian yang menunjukan bahwa suatu pelayanan
tidak layak diteruskan dan dapat juga menyebabkan pengguna putus asa.
1.7. Bab VII Penelitian Tindakan Kelas
Pada
bab IV ini penulis menyampaikan dua belas sub bab mengenai materi penelitian
tindakan kelas. Sub bab pertama mebahas tentang Peran Guru dan Tuntutan
Profosionalisme, sub bab kedua membahas tentang Kapan PTK diperlukan?, sub bab
ketiga membahas tentang Langkah-langkah Awal Penelitian, sub bab keempat
membahas tentang Beberapa Model Penelitian Tindakan Kelas, sub bab kelima
membahas tentang langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas, sub bab keenam membahas
tentang melakukan observasi, sub bab ketujuh membahas tentang Melakukan
Wawancara, sub bab kedelapan membahas tentang Dokumentasi Sebagai Sumber Data,
sub kesembilan membahas tentang Rakaman, Foto, Slide, Tape dan Video, Sub bab
kesepuluh membahas tentang Analisis Data, sub bab kesebelas membahas tentang
Validasi, Sub bab terakhir membahas tentang Menafsirkan atau Interfretasi Data.
Sub
bab pertama penulis menbahas tentang Peran Guru dan Tuntutan Profosionalisme.
Penulis mengutip kutipan dari Nurkamto (1990) menyatakan bahwa guru profesional
adalah guru yang memiliki kemandirian dalan melaksanakan tugas profesionalnya.
Sub
bab kedua penulis membahas tentang Kapan PTK diperlukan? Apabila seorang guru
atau peneliti mengahadapi suatu
persoalan yang menyebabkan suatu proses pembelajaran itu tidak kondusif berarti
ada suatu permasalahan dalam prosestersebut hendak untuk memberikan perhatian
terhadap hal itu dan menjadikan suatu masalah yang hendak diteliti sehingga
menghasilkan solusi untuk hal tersebut.
sub
bab ketiga penulis membahas tentang Langkah-langkah Awal Penelitian. Penulis
mennyatakan bahwa PTK adalah bentuk penelitian yang dilakuakan secara
kolaboratif dan partisipatif yang artinya, Anda tidak melakukan penelitian
secara tersendiri, akan tetapi berkolaborasi dan berpartisipasi dengan sejawat
yang berminat dalam hal tersebut.
sub
bab keempat penulis membahas tentang Beberapa Model Penelitian Tindakan Kelas
terdapat dua model yaitu (1) Model Elliot dengan Modifikasi(Hopkins,1993:49),
penulis mengutip pendapat Sukidin, 2002 yang menyatakan Elliot dan Adelmn
bekerja sama-sama dengan guru dikelas, bukan hanya sebagai pengamat, melainkan
mereka juga sebagai kolaborator atau teman sejawat guru. (2) Model Penelitian
Tindakan Kelas Ebbut, Ebbut sangat memperhatikan alur logika bentuk penelitian
tindakan dan beliau juga berusaha memperlihatkan adanya perbedaan antara teori,
sistem danmembuat sistem-sistem tersebut kedalam bentuk kegiatan operasional.
Sub
bab kelima penulis membahas tentang Langkah-langkah
Penelitian Tindakan Kelas. Penulis mengutip pendapat yang dikemukan oleh Lewis
(dalam Elliott, 1991:69) langakah-langakah kegiatan itu meliputi : (1)
mengidentifikasi gagasan/permasalahan umum, (2) melakukan pengecekan di
lapangan, (3) membuat perencanaan umum, (4) mengembangkan tindakan pertama (5)
mengimplementasikan tindakan utama (6)mengevaluasi, (6) merevisi perncanaan,
untuk tindakan kedua, dst.
Sub
bab keenam penulis membahas tentang
melakukan observasi. Penulis mengutip pendapat yang dikemukakan oleh Karl
Popper (Hopkins, 1993:77. Namun demikian dalam penelitian ini tidak demikian
bahkan bahkan peneliti pada waktu memaksuki ruangan kelas dengan maksud
mengobservasi, sebaiknya meninggalkan teori-teori di dalam kelas, dan mulai
tanpa keinginan menjustifikasi sebuah teori atau yang menangkalnya.
Sub
bab ketujuh membahas tentang Melakukan Wawancara. Wawancara ada yang
terstruktur yaitu wawancara apabila sudah memperisapkan bahaan wawancara
terdahulu, ada wawancara tidak struktur yaitu apabila prakarsa untuk memilih
bahasan wawancara oleh siswa, atau orangyang diwawancarai, dan wawancara semi
terstruktur wawancara yang sudah dipersipakan terlebih dahulu akan tetapi
dimodifiaksi pewawancara agak panjang keluar dari pokus pembahasan.
Sub
bab kedelapan peneliti membahas tentang Dokumentasi Sebagai Sumber Data. Data
dalam penelitian yang bersumber dari dokumen antara lain; (1)Silabus dan
rencana pelajaran (2) laporan diskusi-diskusi tantang kurikulum, (3)
macam-macam tes ujian (4)laporan rapat, (6) laporan tugas sisiwa (7)
bagian-bagian buku teks yang dipakai daqlam pembelajaran, (8)contoh esai yang
ditulis siswa, gambar, dll (Elliot, 1991:78).
Sub
kesembilan peneiliti membahas tentang Rakaman, Foto, Slide, Tape dan Video.
Unruk menggambarkan suasana kelas, atau ilustrasi pada episode tertentu pada
waktu pembelajran berlangsung dalam
rangka penelitian, alat-alat elektronik ini bisa dipakai, namun tidak
mengganggu siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
Sub
bab kesepuluh peneliti membahas tentang Analisis Data. Dalam PTK data sudah
dilakukan peneliti sejak awal, pada setiap aspek penelitian. Peneliti langsung
menganalisis segala yang ada dilihat, diamatinya, situasi kelas cara guru
mengajar dan bagaimana duru mengelola sisiwa dan kelasnya dsb.
Sub
bab kesebelas peneliti membahas tentang
Validasi. Untuk menguji validasi suatu penelitian PTK, sebaiknya mengikuti
langkah-langkah berikut : (1) melakukan member check atau memeriksa kembali
informasi data,(2) Melakukan triagulasi yaitu memeriksa kebenaran hipotesisis,
(3) saturasi penegtesan data secara berulang samapai benar-benar valid (4)
Audit trail pemeriksaan terhadap metode atau prosedur yang digunakan peneliti
(5) mencari expert opinion meminta
sumbagan pendapat dari pakar atau ahli dibidang tersebut.
Sub
bab terakhir membahas tentang Menafsirkan atau Interfretasi Data. Peneliti
mengutip pendapat Zuber-Skrerritt (1992) ada ima lagkah yang perlu diambil
untuk menafsirkan data yaitu; diskusi-diskusi, unsur falsifikasi terdapat dalam
kepedulian yang diuangkapkan dalam forum, implikasi atau dampak dari penelitian
untuk kemajuan belajar siswa disimpulkan dalam diskusi, kesadaran akan
perubahan terhadap permasalahan yang ditimbulkan, keterbatasan
penelitianlanjutan yang perlu dilakukan dibahas dalam diskusi.
2.
Komentar
Buku
“Metode Penelitian Pendidikan Bahasa” karya Prof.Dr. Syamsuddin AR, M.S. dan
Dr.Vismaia S. Damaianti,M.Pd ini merupakan buku yang bagus dan layak untuk
dibaca bagi para peneliti, khususnya bagi peneliti pemula. Hal ini disebabkan
buku ini menjelaskan tentang metode penelitian dari dasar. Mulai dari
pengertian, metode, model, format penelitian hingga ke contoh penelitian.
Struktur
penulisan buku dari pengertian hingga contoh penelitian cukup baik dan teratur.
Di dalam buku ini juga terdapat rangkuman dari setiap pembahasan per bab,
sehingga memudakan kembali pembaca untuk melihat ulang apa yang dibacanya tanpa
membolak balik lembaran kertas helai demi helai. Penulisan dan pemilihan
katanya baik. Buku ini juga sangat bagus untuk para peneliti yang akan melakukan penelitian di bidang pendidikan
bahasa, karena metode, model dan contoh yang disajikan banyak menggunakan
penelitian di bidang pendidikan bahasa.
Disamping
itu, terdapat pula beberapa kekurangan yang terdapat di dalam buku karya
Prof.Dr. Syamsuddin AR, M.S. dan Dr.Vismaia S. Damaianti,M.Pd ini. Diantaranya
banyak menggunakan istilah asing, yang terkadang sulit untuk dipahami isi buku
secara mendalam dan penjelasan mengenai metode kurang merinci, dan di dalam
buku ini di halaman 107 menyebutkan contoh format observasi, bagi pemula sulit
untuk memahaminya karena tidak disertai dengan pengisian format observasi
secara benar.
Dibandingkan
dengan buku “Metode Penelitian Bahasa : Tahapan, Strategi, Metode, dan
Tekniknya” karya Dr. Mahsun, M.S. terdiri dari 375 halaman, sedangkan buku
“Metode Penelitian Pendidikan Bahasa”
lebh tipis terdiri dari 257 halaman. Buku pembanding ini sebenarnya bisa mengisi peluang kurangnya buku
metode penelitian bahasa yang terbit sampai setakat ini karena buku yang khusus
mengenai metode penelitian bahasa masih sangat langka. Namun didalam buku pembanding ada beberapa
kekuranganya:
Setelah membaca seluruh isi buku ini, maka pembaca akan sadar
bahwa sebenarnya penulis tidak menguraikan metode-metode penelitian bahasa
secara umum tetapi menguraikan metode penelitian diakronis. Hal itu terlihat
dari segi jumlah halaman bahasan dan kedalaman pembahasan. Dari segi jumlah
halamannya, bahasan pelakasanaan penelitian diakronis jauh lebih banyak dari
pada bidang kajian lain. Seluruh bagaian lampiran (yaitu Lampiran 1—7) pada
halaman 289—269 berisi hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian
diakronis. Bahasan mengenai pelaksanaan penelitian diakronis (91 halaman) jauh
lebih banyak daripada bahasan mengenai pelaksanaan penelitian secara sinkronis
(hanya 46 halaman) dan bahasan mengenai pelaksanaan penelitian sosiolinguistik
(hanya 53 halaman). Contoh-contoh pada bab kedua, yaitu Tahapan Prapenelitian,
hampir semuanya merupakan contoh dalam bidang kajian linguistik diakronis dan
sosiolinguistik. Selain
ketidakseimbangan jumlah halaman bahasan, dari segi kedalaman isi bahasan pun
sangat tidak seimbang. Bahasan pada topik mengenai pelaksanaan penelitian
secara diakronis sangat mendalam dan panjang lebar, sedangkan bahasan pada
pelaksanaan penelitian sinkronis dan sosiolinguitik sangat dangkal. Penulis
hanya mendeskripsikan metode-metode penyediaan data dengan hanya sedikit
contoh. Penulis juga tidak secara tegas menyebutkan bidang kajian linguistik
mana yang dimaksud dengan pelaksanaan penelitian secara sinkronis. Hal ini
sangat berbeda dengan pelaksanaan penelitian secara diakronis. Pembaca secara
langsung bisa melihat bidang linguistik apa yang dimaksud penulis, yaitu bidang
kajian linguistik historis dan dialektologi. Di samping itu, pembaca juga akan bingung membaca judul sub bab pada
halaman 209 dan halaman 218 yang persis sama meskipun besar hurufnya berbeda.
Di dalam buku ini juga sama sekali tidak ditemukan penjelasan
mengenai pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian. Padahal,
silang pendapat mengenai kedua pendekatan tersebut sangat hangat dibicarakan di
kalangan peneliti. Jadi, buku kurang tepat jika ditujukan bagi mahasiswa
peneliti awal atau awam yang belum banyak memehami masalah penelitian.
Sebaliknya, jika ditujukan untuk peneliti yang sudah banyak melakukan
penelitian, buku ini juga kurang tepat karena banyak sekali hal-hal yang tidak
perlu tetapi dimasukkan dalam buku ini, seperti halnya pembahasan pada bab
keempat di atas.
Akhirnya,
bagaimanapun kehadiran buku-buku ini setidaknya menyadarkan pembaca bahwa buku
tentang metode penelitian itu masih sangat diperlukan oleh para peneliti juga
oleh pembaca umum yang ingin mengetahui bagaimana cara meneliti sebuah bahasa.
Jadi, kita patut memberi pujian untuk itu.
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Buku
metode penelitian terapan bidang pendidikan bahasa karangan karya Prof.Dr.
Syamsuddin AR, M.S. dan Dr.Vismaia S. Damaianti,M.Pd ini sangat bermanfaat
untuk dibaca. Beberapa manfaat yang
didapat dari buku ini antara lain;
1. Dapat
mengetahui tentang konsep dasar penelitian
2. Dapat
mengetahui bermacam jenis penelitian seperti penelitian terapan, penelitian
tindakan dan penelitian eksperimen.
3. Dapat
mengetahui prosedur penelitian yang baik
4. Dapat
mengetahui model- model penelitian
5. Dapat
mengetahui metode- metode yang diterapkan dalam penelitian
6. Bekal
untuk melakukan penelitian
DAFTAR
PUSTAKA
Syamsudin.,dan
Damaianti Vismaia S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung
: PT Remaja Rosdakarya
Mahsun.
2005. Metode Penelitian Bahasa : Tahapan
strategi, metode dan Tekniknya.
Jakarta : PT Raja
Grapindo Persada
http://metpen.blogspot.com/2007/10/tugas-resensi.html
