Kamis, 18 Desember 2014
Indahnya Menundukan Pandangan
Setiap peristiwa berawal dari sebuah pandangan, pandangan itu yang membawakan seseorang jauh dari kondisi sebelumnya. Kondisi hati yang mulanya damai dan tentram setelah melihat sesuatu yang melalaikan diri dari Allah Swt. Ia akan menjadi resah, gundah gulana. Inilah salah satu cambuk setan memperdayakan hati manusia dengan tipu dayanya yang menyesatkan kita.
Ketika kita tidak pernah menduga dan secebis hayal pun tidak terlintas dibenak kita. Bertemu dengan seseorang atau sesuatu yang memusatkan pandagan kita tertuju padanya dan tidak mau berpaling dari itu. Mungkin kita mengatakan pandangan itu adalah kesempatan. Namun ketahuialah kesepatan yang baik adalah Kesempatan dimana mata dan hati memahami jauh. Jauh-jauh hari membentengi diri dengan iman, jauh-jauh melemparkan pandangan ini dari sosok yang melalaikan dan jauh-jauh memikirkan apalagi berkhayal tentangnya.
Kita pun tak ingin sebuah pandangan membuat iman sesorang itu goyah dan tak terarah, menyiksa jiwamu dengan sejuta madah. Rangkaian syair dengan indah hanya untuk menggabarkan sebuah asa yang tak sama sekali belum waktunya diutarakan.
Rangkaian syair itu hanyalah bencana bagi ruh kita, ia bercerita tentang kita dan ia datang tidaklah dengan kegembiraan dan pergi dalam kerugian.
Inilah sebuah ujian yang nyata apabila sedikit lengah nafsu pun berkecambah. Allah Swt. Memerintahkan kepada hambanya untuk menundukan pandangan agar terhindar dari penyakit hati yang melalaikan diri, sebagaimana firmanNya : “Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka perbuat. Katakan kepada wanita beriman hendaknya mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka...”” (An-Nur [24] : 30-31)
Pandangan penuh syahwat itu rajun, yang bisa memakan diri. Penawarnya adalah cepat-cepat memalingkan pandangan dan memohon ampun kepada Allah Swt. Seperti kata penyair dalam buku yang ditulis abu Maryam Tharig bin ‘Athit “Ketika Mata Mesti Dijaga” (100)
Selama suatu pandangan diikuti dengan pandangan berikutnya
Memandang setiap hal yang cantik dan menyenangkan
Dikira itu adalah obat dari lukakmu
Padahal, itu luka diatas luka
Yang kemudian menyembelihkan matamu dengan lirikan dan tangisan
Hingga hatimu pun jadi tersembelih dan tersembelih
Catatan : Dikarenakan kewajiban memberikan peringatan kepada sesama muslim, saya mencoba untuk merealisasikanya khususnya kepada diri saya sendiri dan orang lain dari kalangan kaum muslim. Sebagaimana firma Allah Ta’ala : “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat [51]:55)
Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh pernah berkata –dengan penuh tawadhu-
أُحِبُّ الصَّالحين وَ لَسْتُ مِنْهُمْ *** لَعَلِّيَ أََنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَهْ
Aku mencintai orang-orang saleh meski aku bukan dari mereka
Aku berharap, dengan mencintai mereka aku nanti mendapatkan syafaat
وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي *** وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَهْ
Dan aku membenci orang yang maksiat adalah dagangannya
Meski dagangan kami sama, dikutip dari (http://www.firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/331-jangan-pernah-salah-mencintai)
Semoga tulisan singkat ini memebrikan manfaat dan Allah Swt. Memberikan hidayah kepada kita semua agar menjadi insan yang mulia dan meraih keridhoaanNya di dunia dan akhirat kelak, aamiin yarabbalalaamiin...
Pesan : “Saya hanya manusia biasa yang penuh dengan kekhilafan, yang benar hanyalah datang dari Allah Swt. Semata dan yang salah datanganya dari saya sendiri.”
Langganan:
Postingan (Atom)
